a. #113. Asing maksud, asing sampai.
Tidak sesuai dengan yang diharapkan.
#114. Atap rumbia perabung upih.
Barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk.
#115. Aur ditanam, betung tumbuh.
Mendapat untung (laba) yang banyak.
#116. Seperti aur dengan rebung.
Sangat karib tentang persahabatannya.
#117. Seperti aur dengan tebing.
Saling menolong, tunjang menunjang.
#118. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya.
Kita yang bersusah payang, orang lain yang mendapat keuntungan.
#119. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.
Untuk menutupi kesalahannya, dicari alasan pada orang lain.
Tidak sesuai dengan yang diharapkan.
#114. Atap rumbia perabung upih.
Barang yang baik bercampur dengan barang yang buruk.
#115. Aur ditanam, betung tumbuh.
Mendapat untung (laba) yang banyak.
#116. Seperti aur dengan rebung.
Sangat karib tentang persahabatannya.
#117. Seperti aur dengan tebing.
Saling menolong, tunjang menunjang.
#118. Awak yang payah membelah ruyung, orang lain mendapat sagunya.
Kita yang bersusah payang, orang lain yang mendapat keuntungan.
#119. Awak yang tiada pandai menari, dikatakan lantai berjungkat.
Untuk menutupi kesalahannya, dicari alasan pada orang lain.
b. #120. Ayam bertelur di atas padi.
Hidup dalam kesenangan dan kemewahan.
#121. Ayam bertelur di padi mati kelaparan.
Selalu kekurangan meskipun berpenghasilan besar.
#122. Ayam berkokok, hari siang.
Sudah ada tanda yang pasti.
#123. Ayam ditambat disambar elang.
Malang sekali, bernasib buruk.
#124. Ayam beroga itu kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun,
ke hutan juga perginya.
Betapapun senangnya dan bahagianya di perantauan, negeri asal kita tak
mudah dilupakan.
#125. Ayam hitam terbang malam, hingga ke rimba dalam, bertali ijuk
bertambang tanduk.
Sukar ketahuan (tentang perkara atau sebagainya).
#126. Ayam itik raja pada tempatnya.
Setiap orang berkuasa di lingkungan atau tempatnya.
#127. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasi, bertali benang
bertambah tulang.
Mudah ketahuan.
#128. Bagai ayam dimakan tungau.
Tidak sehat badannya, lagi kurus dan pucat wajahnya.
#129. Menerka ayam di dalam telur.
Menentukan sesuatu yang mustahil ditentukan.
#130. Seperti anak ayam kehilangan induk.
Menderita kesusahan karena kehilangan pemimpinnya.
#131. Seperti musang berbulu ayam.
Pura-pura berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.
Hidup dalam kesenangan dan kemewahan.
#121. Ayam bertelur di padi mati kelaparan.
Selalu kekurangan meskipun berpenghasilan besar.
#122. Ayam berkokok, hari siang.
Sudah ada tanda yang pasti.
#123. Ayam ditambat disambar elang.
Malang sekali, bernasib buruk.
#124. Ayam beroga itu kalau diberi makan di pinggan emas sekalipun,
ke hutan juga perginya.
Betapapun senangnya dan bahagianya di perantauan, negeri asal kita tak
mudah dilupakan.
#125. Ayam hitam terbang malam, hingga ke rimba dalam, bertali ijuk
bertambang tanduk.
Sukar ketahuan (tentang perkara atau sebagainya).
#126. Ayam itik raja pada tempatnya.
Setiap orang berkuasa di lingkungan atau tempatnya.
#127. Ayam putih terbang siang, hinggap di kayu merasi, bertali benang
bertambah tulang.
Mudah ketahuan.
#128. Bagai ayam dimakan tungau.
Tidak sehat badannya, lagi kurus dan pucat wajahnya.
#129. Menerka ayam di dalam telur.
Menentukan sesuatu yang mustahil ditentukan.
#130. Seperti anak ayam kehilangan induk.
Menderita kesusahan karena kehilangan pemimpinnya.
#131. Seperti musang berbulu ayam.
Pura-pura berbuat baik untuk menyembunyikan kesalahannya.
132.Babi merasa gulai.
Menyama-nyamai orang besar (kaya).
#133. Kalau sorok lebih dahulu daripada tokok, tidak mati babi.
Kalau lagak atau bual yang didahulukan, maksud tidak akan tercapai.
#134. Badak makan anak.
Ayah membuang anaknya karena takut akan binasa kebesarannya (pada raja-raja
zaman dahulu).
#135. Seperti kulit badak.
Tidak punya perasaan.
#136. Badan dapat dimiliki, hati tak dapat dimiliki.
Orang yang selalu menuruti perintah, tapi dalam hatinya melawan.
#137. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak mudah dilupakan orang.
#138. Beroleh badar ditimbahkan.
Mendpat keuntungan yang tida disangka-sangka.
#139. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri.
Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baikpun menjadi bagus.
#140. Besar kayu besar bahannya.
Jika penghasilan besar, pengeluaran besar.
#141. Bahasa menunjukan bangsa.
Budi bahasa, perangai, dan tutur kata menunjukan sifat dan tabiat seseorang.
#141. Memikul dibahu, menjunjung di kepala.
Mengerjakan sesuatu menurut aturan.
#142. Tangan mencencang, bahu memikul.
Siapa yang salah harus mendapat hukuman.
#143. Bajak patah banting terambau.
Menderita kecelakaan bertimpa-timpa.
#144. Bajak selalu di tanah lembut.
Orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah.
#145. Bajak sudah terdorong ke bancah.
Sudah terlanjur tidak dapat kembali.
#146. Dahulu bajak daripada jawi.
Sesuatu yang patut didahulukan, dikebelangkankan/Tidak menurut aturan biasanya.
#147. Baji dahan membelah dahan.
Memboroskan harta tuannya.
#148. Bersua baji dengan matan, tahan baji oleh kelidai.
Keras berani lawan keras berani pula.
#149. Bagai memakai baju pinjaman.
Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.
#150. Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang ke sisiran.
Seseorang yang senang karena terlepas dari kesusahan.
#151. Baju indah dari balai, tiba dirumah menyarungkan.
Hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi.
#152. Jangan mengukur baju orang di badan sendiri.
Jangan mengukur orang lain dengan kejahatan dan kebaikan kita sendiri.
#153. Mencabik baju di dada.
Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.
#154. Mengukur baju di badan sendiri.
Menentuan baik dan buruk menurut perasaan sendiri.
#155. Bakarlah air ambilah abunya.
Menghendaki sesuatu yang mustahil kita peroleh.
#157. Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Sangat kikir, sangat kuasa.
TERJEMAHAN
Menyama-nyamai orang besar (kaya).
#133. Kalau sorok lebih dahulu daripada tokok, tidak mati babi.
Kalau lagak atau bual yang didahulukan, maksud tidak akan tercapai.
#134. Badak makan anak.
Ayah membuang anaknya karena takut akan binasa kebesarannya (pada raja-raja
zaman dahulu).
#135. Seperti kulit badak.
Tidak punya perasaan.
#136. Badan dapat dimiliki, hati tak dapat dimiliki.
Orang yang selalu menuruti perintah, tapi dalam hatinya melawan.
#137. Hancur badan di kandung tanah, budi baik dikenang juga.
Budi bahasa yang baik tidak mudah dilupakan orang.
#138. Beroleh badar ditimbahkan.
Mendpat keuntungan yang tida disangka-sangka.
#139. Kalau pandai menggulai, badar jadi tenggiri.
Kalau pandai mengatur, barang yang kurang baikpun menjadi bagus.
#140. Besar kayu besar bahannya.
Jika penghasilan besar, pengeluaran besar.
#141. Bahasa menunjukan bangsa.
Budi bahasa, perangai, dan tutur kata menunjukan sifat dan tabiat seseorang.
#141. Memikul dibahu, menjunjung di kepala.
Mengerjakan sesuatu menurut aturan.
#142. Tangan mencencang, bahu memikul.
Siapa yang salah harus mendapat hukuman.
#143. Bajak patah banting terambau.
Menderita kecelakaan bertimpa-timpa.
#144. Bajak selalu di tanah lembut.
Orang yang selalu menderita adalah orang yang lemah.
#145. Bajak sudah terdorong ke bancah.
Sudah terlanjur tidak dapat kembali.
#146. Dahulu bajak daripada jawi.
Sesuatu yang patut didahulukan, dikebelangkankan/Tidak menurut aturan biasanya.
#147. Baji dahan membelah dahan.
Memboroskan harta tuannya.
#148. Bersua baji dengan matan, tahan baji oleh kelidai.
Keras berani lawan keras berani pula.
#149. Bagai memakai baju pinjaman.
Tingkah laku yang dibuat-buat sehingga terlihat canggung.
#150. Bagai melulus baju sempit, bagai terbuang ke sisiran.
Seseorang yang senang karena terlepas dari kesusahan.
#151. Baju indah dari balai, tiba dirumah menyarungkan.
Hukuman sudah diputuskan dan tidak boleh dibanding lagi.
#152. Jangan mengukur baju orang di badan sendiri.
Jangan mengukur orang lain dengan kejahatan dan kebaikan kita sendiri.
#153. Mencabik baju di dada.
Menceritakan aib sendiri kepada orang lain.
#154. Mengukur baju di badan sendiri.
Menentuan baik dan buruk menurut perasaan sendiri.
#155. Bakarlah air ambilah abunya.
Menghendaki sesuatu yang mustahil kita peroleh.
#157. Dibakar tak hangus, direndam tak basah.
Sangat kikir, sangat kuasa.
TERJEMAHAN
# 113. Foreign intent, alien to.
Not as expected.
# 114. Upih perabung thatched roof.
Goods are well mixed with the bad stuff.
# 115. Aur planted, betung grow.
A profit (profit) that much.
# 116. As aur with bamboo shoots.
Very intimate about friendship.
# 117. As aur with cliffs.
Mutual help, tunjang support.
# 118. The crew were crummy splitting ruyung, others got sagunya.
We were bothered payang, others benefit.
# 119. The crew were not good at dancing, said berjungkat floor.
To cover up his mistake, sought reasons in others.
c. # 120. Chickens lay eggs on top of rice.
Live in ease and luxury.
# 121. In clover starve to death.
Always shortage despite large income.
# 122. The rooster crows, midday.
Already there is a definite sign.
# 123. Chicken hawk tethered struck.
That's unfortunate, ill-fated.
# 124. Chicken Beroga that when fed on a gold plate though,
also gone to the forest.
No matter how nice and happy in the overseas, the first home we do not
easily forgotten.
# 125. Black cock flying at night, down to the jungle in, roped fibers
mined horn.
It is hard to get caught (about the case or the like).
# 126. Poultry king in his place.
Everyone in power in the neighborhood or place.
# 127. White chicken fly day, perched on a wooden merasi, laced thread
increases bone.
Easily caught.
# 128. Bagai eaten chicken mites.
Not healthy body, more thin and pale face.
# 129. Guess the chicken in the egg.
Determining something impossible determined.
# 130. As chicks lost parent.
Suffer hardship due to loss of its leader.
# 131. As a wolf in the sheep's clothing.
Ostensibly do well to hide their mistakes.
132.Babi feel goulash.
Nyamai people behave-big (rich).
# 133. If sorok earlier than tokok, not dead pig.
If mannerism or gabble precedence, the purpose will not be achieved.
# 134. Rhino eating children.
Father dump him for fear of perishing greatness (the kings
ancient time).
# 135. Such as rhino skin.
Do not have feelings.
# 136. Agency can be held, the liver can not be owned.
People who always obey orders, but in his heart against.
# 137. Shattered bodies in the bladder soil, good favor is remembered well.
Budi good language is not easily forgotten.
# 138. Badar obtain ditimbahkan.
Mendpat advantage tida unexpected.
# 139. If clever butter up, so badar mackerel.
If good at organizing, goods less baikpun be nice.
# 140. Great big wooden material.
If a substantial income, big spending.
# 141. Language shows the nation.
Budi language, mannerisms, and speech indicates the nature and character of a person.
# 141. Dibahu bear, uphold in the head.
Do things by the rules.
# 142. Chop hands, shoulders to bear.
Who is at fault should be punished.
# 143. Terambau broken plow slam.
Suffered an accident bertimpa-override.
# 144. Plow always in the soft ground.
People who have always suffered from a weak one.
# 145. Plow had been pushed to bancah.
Already can not return.
# 146. Formerly than ox plows.
Something that should take precedence, dikebelangkankan / Not according to the usual rules.
# 147. Bough branches splitting wedge.
Squandered his master.
# 148. Met with honor wedge, wedge hold by kelidai.
Hard dare brave opponent loud anyway.
# 149. Like wearing a loan.
Behavior made-up so that it looks awkward.
# 150. Bagai melulus narrow clothes, like wasted to strokes.
Someone who is happy because in spite of distress.
# 151. Beautiful clothes from the hall, arriving home sheathed.
The punishment has been decided and should not be compared again.
# 152. Do not measure the entity in its own clothes.
Do not measure others with evil and goodness of our own.
# 153. Tearing the clothes in the chest.
Telling disgrace himself to others.
# 154. Measure clothes on the body itself.
Menentuan good and bad according to his own feelings.
# 155. Burn water pick up on the ashes.
Desiring something impossible to obtain.
# 157. Burnt not charred, not soaked wet.
Miser, very powerful.
No comments:
Post a Comment